Arsip untuk Januari, 2010

Anggun C. Sasmi

Posted in Uncategorized on Januari 9, 2010 by Triton

Biodata

Nama lahir                     :  Anggun Cipta Sasmi
Lahir                                 : 29 April 1974 (umur 35)Jakarta, Indonesia
Genre                                : Pop, Rock, R&B, World music
Pekerjaan                        : Penyanyi/Penulis lagu
Tahun aktif                      :1986–sekarang
Perusahaan rekaman  : Heben, Sony BMG, Warner

Biografi

Anggun Cipta Sasmi (lahir di Jakarta, 29 April 1974; umur 35 tahun) adalah penyanyi asal Indonesia yang saat ini telah memiliki kewarganegaraan Perancis. Ia merupakan putri dari Darto Singo, seorang seniman Indonesia dan Dien Herdina, seorang perempuan yang masih kerabat Keraton Yogyakarta. Mengawali kariernya dengan tampil di panggung Ancol di usia 7 tahun,Anggun kemudian merekam album anak-anak 2 tahun kemudian.Di bawah bimbingan Ian Antono, Anggun memulai debutnya di Indonesia di tahun 1986 melalui album Dunia Aku Punya. Pada usianya yang masih sangat muda Anggun telah berhasil menggapai puncak popularitasnya sebagai penyanyi rock di Indonesia dengan diraihnya penghargaan “Artis Indonesia Terpopuler 1990-1991″.Pada tahun 1994, Anggun memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan mewujudkan impiannya menjadi artis bertaraf internasional. Dengan bantuan Erick Benzi, seorang komposer besar Perancis, pada tahun 1997, Anggun berhasil merilis album internasional pertamanya, Snow on the Sahara, di lebih dari 33 negara di seluruh dunia.

Saat ini Anggun bermukim di Perancis dan Kanada untuk melanjutkan karier internasionalnya. Sejak tahun 1997, album-album Anggun direkam dalam dua bahasa, Inggris dan Perancis. Dengan 4 album internasionalnya, Anggun tercatat sebagai penyanyi Asia paling sukses di luar Asia.

1974–1994

Masa kecil

Anggun merupakan putri pertama dari pasangan Darto Singo, seorang seniman Indonesia dengan Dien Herdina, seorang ibu rumah tangga yang masih keturunan keraton Yogyakarta.[1] Anggun menempuh pendidikan dasarnya di sebuah sekolah Katolik di Jakarta, walaupun Anggun adalah seorang Muslim. Anggun dibesarkan dalam keluarga yang penuh seni. Sejak usia 7 tahun Anggun digembleng latihan vokal setiap hari oleh ayahnya.[8] Anggun diajarkan berbagai latihan teknik vokal dengan penuh disiplin. Tidak hanya itu, Anggun juga diajarkan bermain piano. Dengan dimanajeri ibunya, Anggun kemudian mulai tampil di atas panggung, meskipun sering hanya dengan imbalan nasi bungkus.[8] Pada usia 9 tahun, Anggun mulai menciptakan lagu-lagunya sendiri dan mulai merekan album anak-anak.[4]

Karier di Indonesia

Tua Tua Keladi (1990)

Saat menginjak usia 12 tahun, Anggun meluncurkan album rock pertamanya berjudul Dunia Aku Punya. Album tersebut diproduseri oleh gitaris rock terkenal Indonesia, Ian Antono.[1] Album pertamanya mendapat sambutan yang lumayan di akhir tahun 1980-an. Nama Anggun mencapai puncak popularitasnya di tahun 1990 setelah merilis singel berjudul “Mimpi”,[9] kemudian disusul “Tua Tua Keladi” dan “Takut” yang menjadi hits saat itu.[10] Anggun berhasil meraih penghargaan sebagai “Artis Indonesia Terpopuler 1990-1991″.[4][5] Anggun kemudian merilis banyak singel dan album, mengantarkannya menjadi penyanyi rock remaja papan atas di era awal 1990-an.[4]

Di tengah puncak popularitasnya sebagai lady rocker di Indonesia, Anggun malah memutuskan untuk menikah muda pada tahun 1992 dengan Michel de Ghea, seorang warga negara Perancis. Anggun pertama kali bertemu dengan Michel saat mengadakan tour ke Banjarmasin.[8] Meskipun demikian, ternyata popularitas Anggun tidak meredup. Ia kemudian berhasil menjadi penyanyi termuda yang mendirikan perusahaan rekamanya sendiri, PT Bali Cipta Record.[5]

Hingga tahun 1994, Anggun sudah tercatat sebagai penyanyi mapan di Indonesia dengan penjualan mencapai jutaan kopi. Selain telah memiliki perusahaan rekaman sendiri, Anggun juga telah memproduseri sendiri albumnya.[11] Anggun telah merilis sebanyak 5 album solo yaitu Dunia Aku Punya (1986), Anak Putih Abu Abu (1991), Nocturno (1992), Anggun C. Sasmi… Lah!!! (1993) dan Yang Hilang (1994), ditambah belasan singel dan kompilasi.[12]

1995–1996

Meninggalkan Indonesia dan masa-masa awal di Eropa

Pada tahun 1994, Anggun memutuskan untuk meninggalkan kariernya di Indonesia guna mewujudkan impiannya menjadi penyanyi bertaraf internasional. Ia kemudian menjual perusahaan rekamannya dan hijrah ke Eropa bersama suaminya, Michel de Ghea. Anggun menetap di London, Britania selama setahun untuk memulai kariernya lagi dari bawah. Ia rajin mengirim demo rekaman ke berbagai studio di Britania dan juga pergi ke klub-klub untuk memperkenalkan dirinya sebagai penyanyi. Biaya hidup yang tinggi di London, membuat uang hasil penjualan perusahaan rekaman Anggun habis sedikit demi sedikit.[13] Anggun pun harus menerima kekecewaan tatkala semua demo rekamannya tidak mendapat respon positif. Anggun akhirnya berada pada kesimpulan bahwa kariernya tidak akan pernah tumbuh di Britania dan berencana untuk memulai karier di negara Eropa lain. Ia sempat berniat pindah ke Belanda, namun kemudian ia beralih ke Perancis.

Dua tahun setelah meninggalkan Indonesia, Anggun akhirnya berhasil bertemu dengan Erick Benzi, salah seorang produser besar Perancis yang pernah menangani album sejumlah penyanyi kenamaan seperti Celine Dion, Jean-Jacques Goldman dan Jhonny Hallyday.[6] Benzi terpikat oleh kemampuan vokal Anggun dan seketika menawarkannya untuk rekaman album. Anggun kemudian terbang ke Manila, Filipina untuk mengikuti audisi Sony Music International. Dalam audisi tersebut, Anggun berhasil menyisihkan para penyanyi dari berbagai negara hingga akhirnya berhasil mendapat kontrak Sony untuk 5 album. Sebelum masuk dapur rekaman, Anggun mempelajari bahasa Perancis di Alliance Française selama sebulan.[14][8]

1997–1999

Album pertama dan kesuksesan internasional

Pada tanggal 24 Juni 1997, album pertama Anggun bertajuk Au nom de la lune dilepas ke pasaran Perancis. Singel pertama Anggun, “La neige au Sahara”, mendapat tempat di hati peminat musik Perancis bahkan hingga Belgia, Swiss dan Kanada.[5] Singel ini tercatat sebagai lagu yang paling sering diputar di radio-radio Perancis tahun 1997 dan menjadi salah satu Hit Summer ‘97.[6] Melalui album ini, kini Anggun berubah total dari seorang penyanyi rock tomboy menjadi penyanyi pop yang romantis dan sensual.[15][8][16] Album yang memuat elemen world music ditambah bunyi-bunyian instrumen tradisional Indonesia (tambur, seruling, kemiri) ini berhasil mereguk sukses dengan penjualan lebih dari 150.000 kopi di Perancis dan Belgia, menjadikannya seorang artis berbangsa Indonesia pertama yang berhasil meletakkan nama sejajar dengan artis-artis Perancis yang ada.[16][15]

Setahun berikutnya, Anggun meluncurkan versi bahasa Inggris dari album pertamanya dengan judul Snow on the Sahara. Album ini dirilis resmi di lebih dari 33 negara di Eropa, Asia, dan Amerika.[6][7][4] Album ini berhasil meraih sukses dengan penjualan mencapai lebih dari satu juta keping, menjadikan Anggun sebagai penyanyi Asia terlaris di luar Asia. Singel “Snow on the Sahara” seketika menjadi hit dan berhasil mencapai posisi puncak di 15 negara, termasuk Italia dan Spanyol.[17][7][18] Pada tahun 1999, singel ini juga berhasil menduduki posisi Top 5 pada UK Club Charts di Inggris dan terpilih sebagai lagu promo jam tangan mewah dunia, Swatch.[4][6]

Debut di Amerika Utara

Album Snow on the Sahara dirilis di Amerika Serikat pada Mei 1998 oleh Epic Records.[3] Anggun melakukan tour selama sembilan bulan di negara itu untuk mempromosikan albumnya.[19] Saat berada di sana, Anggun diundang oleh penyanyi Sarah McLachlan untuk tampil di Lilith Fair, sebuah festival musik wanita berkeliling Amerika.[14] Anggun juga tampil di acara New York “Sessions at West 54th” dan menjadi satu-satunya penyanyi Asia yang mendapat kehormatan tampil pada acara Divas Live di Las Vegas.[20][21] Anggun sempat muncul di media Amerika, seperti majalah Billboard dan Rolling Stone.[4] Anggun juga beberapa kali tampil di TV Amerika, seperti dalam acara The Rossie O’Donnel Show dan wawancara di CNN Internasional dalam program World Beat.[14][22]

Dengan 3 singelnya, Anggun berhasil menoreh sejarah dengan menjadi penyanyi Asia pertama yang memasuki tangga lagu Billboard. Singel “Snow on the Sahara” mencapai posisi 16 di Billboard Hot Dance/Club Play serta posisi 19 di Billboard Border Breaker charts.[23][14] Lagu Anggun juga menduduki posisi kedua setelah Céline Dion dalam Billboard journalist’s favourite singles of ‘98.[14] Meskipun cukup fenomenal, album Anggun ini terbilang gagal di Amerika dan tidak mampu menembus tangga album Billboard 200. Album ini menduduki peringkat 23 di Billboard Heat Seekers Chart dan sampai saat ini terjual sekitar 200.000 keping di seluruh Amerika.[24][19][25]

2000–2003

Perceraian, pergantian kewargangaraan dan album kedua

Anggun akhirnya resmi becerai dengan Michel de Ghea pada tahun 1999. Tahun berikutnya, Anggun juga memutuskan melepaskan kewarganegaraan Indonesia-nya. Perpindahan kewarganegaraan Anggun ini sempat menuai kontroversi di tanah air dan banyak pihak mempertanyakan nasionalismenya. Pada acara Kick Andy tahun 2006, Anggun menyatakan bahwa ia berpindah kewarganegaraan akibat susahnya birokrasi KBRI sehingga menyusahkannya sebagai penyanyi yang punya jam terbang cukup tinggi di luar negeri. Anggun juga menyatakan bahwa yang berganti hanyalah warna paspornya, sementara ia sampai kapanpun akan tetap menjadi orang Indonesia.[8]

Album kedua Anggun dirilis pada tahun 2000 dengan judul Chrysalis (versi bahasa Inggris) dan Désirs contraires (versi bahasa Perancis). Album keduanya ini masih digarap oleh Erick Benzi, namun kali ini Anggun yang menulis semua lirik lagu berbahasa Inggris. Jika di album pertamanya bergenre etnik, maka kali ini Anggun mencoba unsur R&B dan Europop. Dirilis resmi di 15 negara di Eropa dan Asia, sayangnya album ini tidak lagi dirilis di Amerika Serikat, meskipun singel pertamanya sempat beberapa kali mengudara di radio-radio Amerika.

Album ini menelurkan hits berjudul “Still Reminds Me”. Singel ini berhasil menduduki Top 5 dalam The Music & Media Europe Brokers Breakers Charts dan mencapai posisi puncak di Asian United Chart. Khusus pasaran Asia Tenggara, Anggun merilis sebuah singel berbahasa Indonesia berjudul “Yang ‘Ku Tunggu”. Album kedua Anggun ini kembali terjual di atas satu juta keping, bahkan berhasil meraih Gold di Italia hanya dalam waktu seminggu.[7]

Pada akhir tahun 2000, Anggun mendapat undangan untuk tampil pada konser Natal di Vatikan bersama Bryan Adams. Anggun kemudia menggelar tur pertamanya keliling Eropa dan Asia. Konser pertama Anggun dimulai di Le Bataclan, Perancis pada 1 Februari 2001 dan berakhir di Kallang Theater, Singapura pada 30 April 2001.[6] Anggun juga tampil di berbagai acara musik internasional diantaranya World Music Awards, MTV Awards, Top of the Pops, Silver Screen Awards, Women Inspire Awards, dan lainnya.[7][26]

Kolaborasi, pergantian label dan pernikahan kedua

Dari tahun 2001 hingga 2003, Anggun terlibat dalam banyak proyek kolaborasi. Dari sejumlah kolaborasi yang dilakukannya yang cukup sukses yaitu dengan DJ Cam dalam lagu jazz “Summer in Paris” (2001), dengan Deep Forest pada lagu bercengkok Sunda, “Deep Blue Sea” (2002) serta duet dengan penyanyi rock terkenal Italia, Piero Pelù dalam singel “Amore Immaginato” (2003). Singel duet Anggun dengan Piero Pelu bahkan berhasil menduduki posisi puncak National Italian Airplay Chart selama 2 bulan.[26]

Anggun juga terlibat dalam proyek 2 film besar Skandinavia, yaitu Anja & Viktor dan Open Hearts.[7] Anggun merilis sebuah lagu berjudul “Rain (Here Without You)” untuk Anja & Viktor di tahun 2001. Tahun berikutnya, Anggun merilis album soundtrack Open Hearts di tahun 2002.[27][28] Di album berbahasa Inggris ketiga ini, Anggun bekerja sama dengan 2 musisi asal Denmark, Jesper Winge Leisner and Niels Brinck. Singel dari album ini, “Open Your Heart”, dinominasikan meraih penghargaan “Best Song” pada Danish Film Awards 2003.[7]

Pencapaian karier Anggun mengantarkannya meraih sejumlah apresiasi. Ia dianugerahi penghargaan “The Cosmopolitan Asia Women Award” di tahun 2000 serta “The Women Inspire Award” di tahun 2002, sebagai penyanyi yang memberi inspirasi kepada seluruh wanita Asia atas kariernya sebagai penyanyi solo asal Asia yang sukses di dunia internasional.[29][4] Pada Januari 2003, Anggun hadir di MIDEM Awards untuk menerima penghargaan prestisius, Diamond Award, yang diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Perancis. Penghargaan tersebut mengukuhkannya menjadi salah satu penyanyi berbahasa Perancis tersukses di luar Perancis.[7]

Pada tahun 2003 Anggun memutuskan untuk menghentikan kerja samanya dengan Sony Music, meskipun kotraknya belum selesai. Langkah ini diambil Anggun akibat telah berubahnya struktur perusahaan itu di berbagai negara.[30] Anggun juga memutuskan pindah ke Montreal, Kanada untuk memperlebar sayapnya di Amerika. Di sini pula Anggun kemudian bertemu jodoh dengan Olivier Maury, seorang sarjana politik Kanada dan mereka menikah di tahun 2004.

2004–2006

Album ketiga hingga menjadi duta PBB

Anggun kembali tampil dengan album ketiganya berjudul Luminescence di tahun 2005. Berbeda dengan album-album terdahulu, kali ini untuk versi bahasa Perancis dan bahasa Inggris dirilis dengan judul yang sama. Setelah 5 tahun tidak merilis album studio, Anggun yang sebelumnya di bawah label Sony Music, kini pindah ke Universal.[27] Selain itu, di album ini posisi Erick Benzi sebagai produser telah digantikan oleh nama-nama tersohor dalam dunia musik Perancis seperti Jean-Pierre Taieb, Lionel Florence, Evelyn Kraal, dan Jean Faque. Album ini berhasil meraih status Platinum di Eropa dan 4x Platinum di Asia.[31]

Singel pertama dari album ini, “Être une femme”, telah dinobatkan sebagai Lagu Paling Populer Tahun 2004 oleh Radio France International, sebuah stasiun radio bertaraf internasional di Perancis. Versi berbahasa Inggrisnya, “In Your Mind”, merupakan lagu yang sangat populer di Asia. Di Timur Tengah, lagu ini berhasil mencapai posisi puncak tangga lagu Turki, Uni Emirat Arab, dan Lebanon. Singel kedua album ini, “Saviour”, juga menjadi hit dan terpilih sebagai soundtrack dari film box office, The Transporter 2.[15]

Pada ini, Anggun menerima sebuah penghargaan tertinggi “Chevalier des Arts et Lettres” dari pemerintah Perancis atas prestasi karier dan kontribusinya pada budaya Perancis di seluruh dunia.[32][33] Anggun juga ditunjuk sebagai juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Skim Mikrokredit, sebuah program pengentasan kemiskinan di seluruh dunia.[34] Anggun juga terpilih menjadi ambassador bagi Audemars Piguet, sebuah perusahaan jam tangan mewah dunia asal Swiss.[35]

Best-Of

Pada tahun 2006, Anggun merilis ulang album Luminescence dengan menambahkan tiga lagu baru dan foto-foto terbaru. Singel terbarunya yaitu “Juste avant toi” atau “I’ll Be Alright” telah direkam secara rahasia di Jakarta dan Bali. Di Perancis, Swiss, Belgia, dan negara berbahasa Perancis lainnya, Luminescence Repackage dipasarkan pada 21 Agustus 2006. Sebuah buku foto Anggun disertakan dalam setiap pembelian album tersebut. Pada tahun tersebut, Anggun juga melakukan duet dengan penyanyi legendaris Julio Iglesias dalam lagu “All of You”.[36]

Bertempat di Jakarta Convention Center, pada tanggal 25 Mei 2006, Anggun menggelar konser tunggalnya di Indonesia secara besar-besaran. Tiket yang disediakan yakni sebanyak 5.000 lembar seluruhnya habis terjual.[15][37] Kompas menyebutnya sebagai salah satu konser terspektakuler sepanjang tahun. Anggun kemudian menerima penghargaan khusus dari Anugerah Musik Indonesia sebagai “Artis Internasional Terbaik”.[38][39] Anugerah khas itu diberikan atas keberhasilannya mengukir nama di luar negeri dan menaikan nama industri musik Indonesia di mata internasional. Menutup tahun itu, Anggun merilis kompilasi terbaik berjudul Best Of. Album ini menampilkan hits Anggun selama karier internasionalnya, ditambah tiga lagu lawas Anggun: “Mimpi”, Bayang-Bayang Ilusi” dan “Takut”, yang dinyanyikan ulang dengan iringan Andy Ayunir dan Orkestra Saunine.[40]

2007–sekarang

Elevation

Pada tahun 2007, Anggun terlibat dalam penggarapan film dokumenter berjudul Un jour sur terre atau Earth. Anggun bertindak sebagai narator dan merilis singel soundtrack dari film tersebut. Di akhir tahun 2008, Anggun merilis album keempatnya bertajuk Elevation. Di album ini, Anggun mengubah total aliran musiknya dengan memasukan jenis musik hip hop dan urban.[41][42] Anggun menggandeng produser hip hop asal Amerika Serikat, Tefa dan Masta. Anggun juga berkolaborasi dengan sejumlah penyanyi rap diantaranya Pras Michel (personel The Fugees), Sinik dan Big Ali serta Laurent Wolf dan Tomer G. untuk meremix lagu-lagunya.[43] Di Indonesia, sebelum dirilis resmi pada 1 Desember 2009, album ini bahkan telah mendapat penghargaan Double Platinum.[44][45]

Singel pertama dari album ini yaitu “Si tu l’avoues” untuk pasaran Perancis, “Crazy” untuk pasaran internasional, serta “Jadi Milikmu” untuk pasaran Indonesia.

Pada tahun 2009, Anggun menggelar konser di 5 kota di Indonesia bertajuk “Anggun Indonesia Roadshow 2009″. Dalam pegelaran ini Anggun menggandeng sejumlah penyanyi populer Indonesia, di antaranya Bunga Citra Lestari, Dewi Sandra, Pinkan Mambo, Glenn Fredly dan Ello.

Kehidupan pribadi

Pada tahun 1992, Anggun menikah muda dengan dengan Michel de Ghea, seorang pria berkebangsaan Perancis. Konon pernikahan ini awalnya kurang disetujui oleh pihak keluarga Anggun karena perbedaan usia yang besar dan usia Anggun yang masih terlalu muda untuk menikah. Bersama Michel, Anggun kemudian hijrah ke Eropa untuk mewujudkan mimpi besarnya. Pasangan ini menetap di London, Inggris sejak tahun 1994, lalu kemudian pindah ke Paris, Perancis. Namun sayangnya setelah 7 tahun, pernikahan ini kandas di tahun 1999.

Sejak menetap di Montreal, Kanada pada tahun 2003, Anggun mulai menjalin hubungan dengan Oliver Maury, seorang sarjana politik Kanada. Setahun berikutnya, hubungan ini berlanjut ke jenjang perkawinan melalui upacara sederhana di Bali. Maury kemudian diangkat sebagai manajer Anggun. Namun kemudian pernikahan ini kembali kandas di tahun 2006.

Anggun kemudian menjalin hubungan dengan Cyril Montana, seorang penulis Perancis. Pada 8 November 2007, Anggun melahirkan putri pertamanya yang diberi nama Kirana Cipta Montana Sasmi.

Aktivitas lain

Anggun merupakan salah satu artis yang sangat peduli pada masalah sosial. Sejak karier internasionalnya, Anggun telah terlibat dalam banyak proyek album amal, diantaranya Ensemble contre le Sida (1998), Les enfoires (1999), Les Restos du coeur (1999), Echoes of the Earth (2000), Les voix de l’espoir (2001), Gaia (2002), le Concert pour la Paix (2003), Genesis (2004) (duet bersama Peter Gabriel), “L’or de nos vies” (2005) (singel kampanye melawan AIDS), “Pour que tu sois libre” (singel amal tahun 2007). Anggun juga telah banyak mengadakan konser-konser amal bersama para musisi di Eropa, sebut saja Konser Melawan AIDS di tahun 2006 di Monako dan Konser Melawan Malaria di Swiss yang didukung beberapa musisi dari 5 benua.[48].

Pada tahun 2005, Anggun dinobatkan sebagai ambassador atau juru bicara Perserikatan Bangsa Bangsa untuk skim mikrokredit. Anggun ditunjuk PBB untuk menyukseskan pengentasan kemiskinan di negara-negara berkembang di seluruh dunia.[34] Pada tahun 2007, Anggun juga terpilih sebagai “Marraine de l’environnement” (duta lingkungan hidup) serta mendapat penghargaan “Le Grand Couer de l’annee” atas kontribusinya dalam sejumlah permasalahan sosial dan lingkungan hidup di Perancis.[49] Di Indonesia, pasca tsunami menyerang negara-negara Asia pada tahun awal tahun 2004, Anggun terbang ke Aceh untuk membantu rehabilitasi di sana.

Produk iklan

Anggun merupakan salah satu penyanyi yang tidak terlalu tertarik dengan bidang di luar dunia tarik suara, termasuk menjadi duta atau model iklan. Ia sudah sering menolak tawaran iklan yang datang padanya. Menurut Anggun, ia memang sengaja menunda keinginannya untuk menjadi bintang iklan, karena menurut adat di Eropa, bila menolak tawaran, reputasi malah semakin meningkat.[35] Pada tahun 2005, Anggun untuk pertama kalinya menerima tawaran sebagai duta dari produk jam tangan mewah asal Swiss, Audemars Piguet.

Pada tahun 2008, Anggun kembali menerima tawaran sebagai ambassador dari produk sampo asal Amerika Serikat, Pantene, serta merek susu asal Selandia Baru, Anlene.Awalnya Anggun sempat menolak tawaran Anlene, tapi karena misi yang di bawa Anlene untuk pemberantasan osteoporosis di Indonesia, Anggun pun tertarik menjadi duta produk Anlene.

Keartisan dan citra

Di awal kariernya sebagai penyanyi rock, Anggun amat dikenal akan penampilannya yang tomboi dan khas. Gaya berbusananya saat itu: menggunakan baret miring, celana pendek, jaket paku-paku, dan sepatu boot, sempat menjadi tren di era awal 1990-an. Namun, sejak bertransformasi menjadi penyanyi internasional di tahun 1997, Anggun mengubah total genre musik termasuk penampilannya menjadi lebih feminin dan seksi. Penampilan khas wanita Asia dengan rambut hitam panjang dan kulit sawo matang merupakan ciri khas yang selalu dipertahankannya. Untuk menunjang penampilannya, Anggun telah banyak mendapat bantuan para desainer kondang dari seluruh dunia, diantaranya Azzedine Alaïa, Dolce & Gabbana, Roberto Cavalli dan lainnya. Berkat penampilannya, Anggun didaulat sebagai juri dalam kontes kecantikan Miss France 2009.

Akibat penampilannya yang terlalu seksi, Anggun pernah tersandung masalah pornografi. Video klip “Saviour” milik Anggun yang dirilis tahun 2006 sempat dicekal di Indonesia karena terganjal RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang saat itu sedang hangat-hangatnya dibahas.[52] Anggun merasa kecewa dan menyatakan penolakannya terhadap RUU tersebut.

Anggun juga dikenal sebagai penyanyi Asia yang berkarakter kuat dan sangat menjiwai lagu-lagunya. Anggun memiliki jenis vokal kontralto yang cukup kuat dan powerfull dengan jangkauan lebih dari 3 oktaf.Dengan modal vokalnya, Anggun mampu menyanyikan hampir seluruh genre musik mulai dari rock, pop, etnik, jazz, elektronika, urban, house, R&B, hingga hip hop.

Diskografi

Album berbahasa Indonesia

  • Dunia Aku Punya (1986)
  • Anak Putih Abu Abu (1991)
  • Nocturno (1992)
  • Anggun C. Sasmi… Lah!!! (1993)
  • Yang Hilang (1994)

Album berbahasa Perancis

  • Au nom de la lune (1997)
  • Désirs contraires (2000)
  • Luminescence (2005)
  • Elévation (2008)

Album berbahasa Inggris

  • Snow on the Sahara (1998)
  • Anggun (1998)
  • Chrysalis (2000)
  • Open Hearts – Original Soundtrack (2002)
  • Luminescence (2005)
  • Best Of (2006)
  • Elevation (2008)

Tora Sudiro

Posted in Uncategorized on Januari 9, 2010 by Triton

Nama Asli : Taura Danang Sudiro
Tempat Lahir    : Jakarta
Tanggal Lahir    : 1973-05-10
Zodiak        : Taurus
Pekerjaan    : Aktor,Bintang Iklan,Komedian
Orang tua   : Tanto Sudiro, Pinky Mardikusno

Ebiet Ghoffard Ade

Posted in Uncategorized on Januari 9, 2010 by Triton

Biodata

Nama Lengkap                  : Ebiet Ghoffard Ade
Nama Asli                           : Abid Ghoffar Aboe Dja’far
Tanggal/Tempat lahir   : 21 April 1954/Wanadadi, Banjarnegara, Banyumas, Jawa Tengah
Nama Istri                          : Yayu Sugianto (Koespudji Rahayu)
Nama Anak – anak           : 1. Abietyasakti Ksatria Kinasih – ♂
2. Aderaprabu Lantip Trengginas – ♂
3. Byatriasa Pakarti Linuwih – ♀
4. Segara Banyu Bening – ♂

Biografi

Ebiet G. Ade (lahir di Banjarnegara, Jawa Tengah, 21 April 1954; umur 55 tahun) adalah seorang penyanyi dan penulis lagu berkewarganegaraan Indonesia. Ebiet dikenal dengan lagu-lagunya yang bertemakan alam dan duka derita kelompok tersisih. Lewat lagu-lagunya yang ber-genre balada, pada awal karirnya, ia ‘memotret’ suasana kehidupan Indonesia di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Tema lagunya beragam, tidak hanya tentang cinta, tetap ada juga lagu-lagu bertemakan alam, sosial-politik, bencana, religius, keluarga, dll. Sentuhan musiknya sempat mendorong pembaruan pada dunia musik pop Indonesia. Semua lagu ditulisnya sendiri, ia tidak pernah menyanyikan lagu yang diciptakan orang lain.

Terlahir dengan nama Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far di Wanadadi, Banjarnegara[1], merupakan anak termuda dari 6 bersaudara, anak Aboe Dja’far, seorang PNS, dan Saodah, seorang pedagang kain. Dulu ia memendam banyak cita-cita, seperti insinyur, dokter, pelukis. Semuanya melenceng, Ebiet malah jadi penyanyi — kendati ia lebih suka disebut penyair karena latar belakangnya di dunia seni yang berawal dari kepenyairan.

Setelah lulus SD, Ebiet masuk PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Banjarnegara. Sayangnya ia tidak betah sehingga pindah ke Yogyakarta. Sekolah di SMP Muhammadiyah 3 dan melanjutkan ke SMA Muhammadiyah I. Di sana ia aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia). Namun, ia tidak dapat melanjutkan kuliah ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada karena ketiadaan biaya. Ia lebih memilih bergabung dengan grup vokal ketika ayahnya yang pensiunan memberinya opsi: Ebiet masuk FE UGM atau kakaknya yang baru ujian lulus jadi sarjana di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.[3]

Nama Ebiet didapatnya dari pengalamannya kursus bahasa Inggris semasa SMA. Gurunya orang asing, biasa memanggilnya Ebiet, mungkin karena mereka mengucapkan A menjadi E. Terinspirasi dari tulisan Ebiet di bagian punggung kaos merahnya, lama-lama ia lebih sering dipanggil Ebiet oleh teman-temannya. Nama ayahnya digunakan sebagai nama belakang, disingkat AD, kemudian ditulis Ade, sesuai bunyi penyebutannya, Ebiet G. Ade. Kalau dipanjangkan, ditulis sebagai Ebiet Ghoffar Aboe Dja’far.

Sering keluyuran tidak keruan, dulu Ebiet akrab dengan lingkungan seniman muda Yogyakarta pada tahun 1971. Tampaknya, lingkungan inilah yang membentuk persiapan Ebiet untuk mengorbit. Motivasi terbesar yang membangkitkan kreativitas penciptaan karya-karyanya adalah ketika bersahabat dengan Emha Ainun Nadjib (penyair), Eko Tunas (cerpenis), dan E.H. Kartanegara (penulis). Malioboro menjadi semacam rumah bagi Ebiet ketika kiprah kepenyairannya diolah, karena pada masa itu banyak seniman yang berkumpul di sana.

Meski bisa membuat puisi, ia mengaku tidak bisa apabila diminta sekedar mendeklamasikan puisi. Dari ketidakmampuannya membaca puisi secara langsung itu, Ebiet mencari cara agar tetap bisa membaca puisi dengan cara yang lain, tanpa harus berdeklamasi. Caranya, dengan menggunakan musik. Musikalisasi puisi, begitu istilah yang digunakan dalam lingkungan kepenyairan, seperti yang banyak dilakukannya pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Beberapa puisi Emha bahkan sering dilantunkan Ebiet dengan petikan gitarnya. Walaupun begitu, ketika masuk dapur rekaman, tidak sebiji pun syair Emha yang ikut dinyanyikannya. Hal itu terjadi karena ia pernah diledek teman-temannya agar membuat lagu dari puisinya sendiri. Pacuan semangat dari teman-temannya ini melecut Ebiet untuk melagukan puisi-puisinya.

Karir

Ebiet pertama kali belajar gitar dari kakaknya, Ahmad Mukhodam, lalu belajar gitar di Yogyakarta dengan Kusbini. Semula ia hanya menyanyi dengan menggelar pentas seni di Senisono, Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta dan juga di Jawa Tengah, memusikalisasikan puisi-puisi karya Emily Dickinson, Nobody, dan mendapat tanggapan positif dari pemirsanya. Walau begitu ia masih menganggap kegiataannya ini sebagai hobi belaka. Namun atas dorongan para sahabat dekatnya dari PSK (Persada Studi Klub yang didirikan oleh Umbu Landu Paranggi) dan juga temannya satu kos, akhirnya Ebiet bersedia juga maju ke dunia belantika musik Nusantara. Setelah berkali-kali ditolak di berbagai perusahaan rekam, akhirnya ia diterima di Jackson Record pada tahun 1979.

Jika semula Ebiet enggan meninggalkan pondokannya yang tidak jauh dari pondok keraton, maka fakta telah menunjuk jalan lurus baginya ke Jakarta. Ia melalui rekaman demi rekaman dengan sukses. Sempat juga ia melakukan rekaman di Filipina untuk mencapai hasil yang lebih baik, yakni album Camellia III. Tetapi, ia menolak merekam lagu-lagunya dalam bahasa Jepang, ketika ia mendapat kesempatan tampil di depan publik di sana.

Pernah juga ia melakukan rekaman di Capitol Records, Amerika Serikat, untuk album ke-8-nya Zaman. Ia menyertakan Addie M.S. dan Dodo Zakaria sebagai rekan yang membantu musiknya.

Lagu-lagunya menjadi trend baru dalam khasana musik pop Indonesia. Tak heran, Ebiet sempat merajai dunia musik pop Indonesia di kisaran tahun 1979-1983. Sekitar 7 tahun Ebiet mengerjakan rekaman di Jackson Record. Pada tahun 1986, perusahaan rekam yang melambungkan namanya itu tutup dan Ebiet terpaksa keluar. Ia sempat mendirikan perusahaan rekam sendiri EGA Records, yang memproduksi 3 album, Menjaring Matahari, Sketsa Rembulan Emas, dan Seraut Wajah.

Sayang, pada tahun 1990, Ebiet yang “gelisah” dengan Indonesia, akhirnya memilih “bertapa” dari hingar bingar indutri musik dan memilih berdiri di pinggiran saja. Baru pada tahun 1995 ia mengeluarkan album Kupu-Kupu Kertas (didukung oleh Ian Antono, Billy J. Budiardjo (alm), Purwacaraka, dan Erwin Gutawa) dan Cinta Sebening Embun (didukung oleh Adi Adrian dari KLa Project). Pada tahun 1996 ia mengeluarkan album Aku Ingin Pulang (didukung oleh Purwacaraka dan Embong Rahardjo). Dua tahun berikutnya ia mengeluarkan album Gamelan yang memuat 5 lagu lama yang diaransemen ulang dengan musik gamelan oleh Rizal Mantovani. Pada tahun 2000 Ebiet mengeluarkan album Balada Sinetron Cinta dan tahun 2001 ia mengeluarkan album Bahasa Langit, yang didukung oleh Andi Rianto, Erwin Gutawa dan Tohpati. Setelah album itu, Ebiet mulai lagi menyepi selama 5 tahun ke depan.

Ebiet adalah salah satu penyanyi yang mendukung album Kita Untuk Mereka, sebuah album yang dikeluarkan berkaitan dengan terjadinya tsunami 2004, bersama dengan 57 musisi lainnya. Ia memang seorang penyanyi spesialis tragedi, terbukti lagu-lagunya sering menjadi tema bencana.

Pada tahun 2007, ia mengeluarkan album baru berjudul In Love: 25th Anniversary (didukung oleh Anto Hoed), setelah 5 tahun absen rekaman. Album itu sendiri adalah peringatan buat ulang tahun pernikahan ke-25-nya, bersama pula 13 lagu lain yang masih dalam aransemen lama.

Keluarga

Menikah dengan Koespudji Rahayu Sugianto (atau lebih dikenal sebagai Yayuk Sugianto, kakak penyanyi Iis Sugianto) pada tanggal 4 Februari 1982, ia dikaruniai 4 anak, 3 laki-laki dan 1 perempuan:

  • Abietyasakti “Abie” Ksatria Kinasih (lahir 8 Desember 1982)
  • Aderaprabu “Dera” Lantip Trengginas (lahir 6 Januari 1986)
  • Byatriasa “Yayas” Pakarti Linuwih (lahir 6 April 1987)
  • Segara “Dega” Banyu Bening (lahir 11 Desember 1989).

Mereka bertempat tinggal di kawasan Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Anak sulung Ebiet, Abie juga memiliki bakat musik, dan sering mewakili Ebiet dalam mengecek sound system menjelang ayahnya manggung.

Ebiet juga seorang penggemar golf, namun sejak terjadinya bencana tsunami 2004, ia tidak pernah lagi main golf.

Diskografi

Tidak seluruh album yang dikeluarkan Ebiet G. Ade berisi lagu baru. Pada tahun-tahun terakhir, ia sering mengeluarkan rilis ulang lagu-lagu lamanya, baik dengan aransemen asli maupun dengan aransemen ulang. Dan pada tahun-tahun terakhir Ebiet banyak memilih berkolaborasi dengan musisi-musisi berbakat.

Jumlah album kompilasinya yang dikeluarkan melebihi album studionya. Sejauh ini terdapat sedikitnya 25 album kompilasinya yang diterbitkan oleh berbagai perusahaan rekam.

Album studio

  • Camellia I (1979)
  • Camellia II (1979)
  • Camellia III (1980)
  • Camellia 4 (1980)
  • Langkah Berikutnya (1982)
  • Tokoh-Tokoh (1982)
  • 1984 (1984)
  • Zaman (1985)
  • Isyu! (1986)
  • Menjaring Matahari (1987)
  • Sketsa Rembulan Emas (1988)
  • Seraut Wajah (1990)
  • Kupu-Kupu Kertas (1995)
  • Cinta Sebening Embun (1995)
  • Aku Ingin Pulang (1995)
  • Gamelan (1998)
  • Balada Sinetron Cinta (2000)
  • Bahasa Langit (2001)
  • In Love: 25th Anniversary (2007)
  • Masih Ada Waktu (2008)
  • Tembang Country 2 (2009)

Kompilasi

  • Lagu-Lagu Terbaik I Ebiet G. Ade (1987)
  • Lagu-Lagu Terbaik II Ebiet G. Ade (1987)
  • Lagu-Lagu Terbaik III Ebiet G. Ade (1987)
  • Lagu-Lagu Terbaik IV Ebiet G. Ade (1987)
  • 20 Lagu Terpopuler Ebiet G. Ade (1988)
  • Perjalanan Vol. I (1988)
  • Perjalanan Vol. II (1988)
  • Seleksi Album Emas (1990)
  • Seleksi Album Emas II (1994)
  • 16 Lagu Puisi Cinta Ebiet G. Ade (1995)
  • Kumpulan Lagu-Lagu Religius (1996)
  • Hidupku MilikMu – Kumpulan Lagu-Lagu Religius Vol. II (1996)
  • 21 Tembang Puisi Dan Kehidupan (1996)
  • 20 Lagu Terpopuler (1997)
  • Lagu-Lagu Terbaik (1997)
  • Renungan Reformasi (1997)
  • 16 Koleksi Terlengkap Ebiet G. Ade (1997)
  • 12 Lagu Terbaik Ebiet G. Ade (1979-1986; 1997)
  • 12 Lagu Terbaik Ebiet G. Ade Volume II (1979-1986; 1997)
  • Ilham Seni (1998)
  • Best of the Best (1999)
  • Akustik (2001)
  • Balada Country (2002)
  • M. Nasir vs Ebiet G. Ade – Penyair Nusantara (2002)
  • Nyanyian Cinta (2003)
  • Tembang Renungan Hati (2003)
  • Tembang Slow (2004)
  • Kumpulan Lagu-Lagu Terbaik (2004)
  • 22 Lagu Hits Sepanjang Masa (2005)
  • Yogyakarta (2006)
  • Tembang Cantik (2006)

Lagu dari album lain

  • Untuk Anakku Tercinta (1983)
  • Surat Dari Desa (1987) dalam album Lomba Cipta Lagu Pembangunan 1987.
  • Berita kepada Kawan (1995; versi duet dengan M. Nasir)
  • Mengarungi Keberkahan Tuhan (2007; ditulis bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono)

Penghargaan

Ebiet G. Ade telah menerima sejumlah penghargaan, antara lain:

  • 18 Golden dan Platinum Record dari Jackson Record dan label lainnya dari album Camellia I hingga Isyu!
  • Biduan Pop Kesayangan PUSPEN ABRI (1979-1984)
  • Pencipta Lagu Kesayangan Angket Musica Indonesia (1980-1985)
  • Penghargaan Diskotek Indonesia (1981)
  • 10 Lagu Terbaik ASIRI (1980-1981)
  • Penghargaan Lomba Cipta Lagu Pembangunan (1987)
  • Penyanyi kesayangan Siaran Radio ABRI (1989-1992)
  • BASF Awards (1984 – 1988)
  • Penyanyi solo dan balada terbaik Anugerah Musik Indonesia (1997)
  • Lagu Terbaik AMI Sharp Award (2000)
  • Planet Muzik Awards dari Singapura (2002)
  • Penghargaan Lingkungan Hidup (2005)
  • Duta Lingkungan Hidup (2006)
  • Penghargaan Peduli Award Forum Indonesia Muda (2006)
  • Sejumlah penghargaan dari berbagai lembaga independen.

Kemunculan kembali Ebiet pada 28 September 2008 dalam acara Zona 80 di Metro TV cukup menjadi obat bagi para penggemarnya. Dengan dihadiri para sahabat di antaranya Eko Tunas, Ebiet G Ade membawakan lagu lama yang pernah popular pada dekade 80-an.

Agnes Monica

Posted in Uncategorized on Januari 9, 2010 by Triton

Biodata
Nama                                    : Agnes Monica
Nama lengkap                   : Agnes Monica Muljoto
Panggilan                            : Nez,Nyez
Tempat, tanggal lahir    : Jakarta, 1 Juli 1986
Nama Ayah                       : Ricky Muljoto
Nama Ibu                            : Jeanny Siswono
Tinggi/berat badan         : 168cm 51 kg
Brother                                : Steve Muljoto
Her niece                             : Chloe Xaviera
Pendidikan sekarang     : Universitas Pelita Harapan Karawaci,Fakultas Hukum
Favorit
Makanan            : Niku Udon (Japanese Food),Penne Bolognaise(pasta)
Minuman           : Mineral water,ice tea with lots of ice cubes
Warna                 : Hitam,Putih & Pink
Buku …

Sherina Munaf

Posted in Uncategorized on Januari 9, 2010 by Triton

Biodata

Nama lahir   : Sinna Sherina Munaf
Lahir               : 11 Juni 1990 (umur 19)Bandung, Indonesia
Tahun aktif   : 1999 – sekarang
Perusahaan  : rekaman Trinity Production

Biografi

Gadis yang memiliki nama Sinna Sherina Munaf itu, mulai meririlis debut albumnya pada 1999 dengan album Andai Aku Besar Nanti. Dalam album tersebut berisi lagu-lagu Andai Aku Besar Nanti, Pelangiku, Kembali ke Sekolah.Berikutnya, gadis kelahiran Bandung, 11 Juni 1990 itu merilis album keduanya, Petualangan Sherina, yang juga diangkat menjadi film layar lebar. Film yang dibintanginya bersama Didi Petet, Mathias Muchus dan Butet Kertaradjasa itu sekaligus menjadi debut Sherina sebagai bintang film, meski filmnya yang lain belum pernah ada.Memasuki usia remajanya, Sherina kemudian merilis album My Life dengan lagu andalan My Life, Aku Tlah Dewasa dan Clik Clok.Belakangan, putri pasangan Triawan Munaf dan Luki Ariani ini, kembali muncul dengan album baru. Album bertajuk Primadona (2007), tampil dengan gaya barunya yang dewasa. Sherina tampil dengan lagu-lagu dewasa yang diciptakannya sendiri.Meksi masih muda, namun kemampuan Sherina dalam menciptakan lagu tidak bisa dianggap remeh. Di tahun 2008, Sherina yang pernah menjadi kekasih Kevin Aprilio ini dipercaya menyumbangkan lagu pada soundtrack film AYAT-AYAT CINTA. Dengan single Jalan Cinta, Sherina menunjukkan kiprahnya sebagai pencipta lagu sekaligus penyanyi.Dalam film fenomenal LASKAR PELANGI di tahun 2008, Sherina yang bersahabat dengan aktor Derby Romero ini kembali dipercaya untuk menyumbangkan lagu untuk soundtrack film ini. Ku Bahagia adalah single yang dibawakan dan diciptakan oleh Sherina untuk film LASKAR PELANGI.

Iklan

  • Tini Wini Biti (1998-2002)
  • Pediasure (2000-2001)
  • My Noodle (2003)
  • Susu Bendera (2000-2001)
  • Panasonic (2007-Sekarang)
  • Grand Indonesia (2008-Sekarang)

Presenter

  • Kuis Sherina (RCTI, 1999)
  • Main Bersama Sherina (RCTI, 1999)

Diskografi

  • Andai Aku Besar Nanti (1999)
  • Petualangan Sherina (2000)
  • My Life (2002)
  • Primadona (2007)
  • Gemini (2009)

Album kompilasi

  • OST Ayat Ayat Cinta (2008)
  • OST Laskar Pelangi (2008)

Filmografi

  • Petualangan Sherina” (2000)

Metode Baru (Free Gratis)

Posted in Uncategorized on Januari 8, 2010 by Triton

Saudara – saudara ku sekalian ada yang ingin saya tanyakan kepada kalian semua?

“Apakah kejujuran dapat menjadi nilai tambah dalam berbisnis??”

Saya juga sedikit bingung apakah itu benar atau tidak, tetapi saya senang sekali jika semua yang kita dapatkan dari kejujuran.

Dalam sastra Sansekerta terdapat ungkapan “Sathyam Vada, Priyam Vada” yang berarti katakanlah kebenaran (jujur) dan katakanlah selalu yang menyenangkan.

Bagi saya kejujuran merupakan hal yang sangat penting, bukan hanya untuk orang lain melainkan untuk diri kita juga, karena dengan kejujuran itulah kita merasakan menjadi diri sendiri ( genuine ).

Mungkin karena berkah-Nya, saya menemukan bisnis online yang menurut saya sangat fair dan transparan dalam menjelaskan alur bisnisnya. Dan bahkan bisnis ini berani memberikan produknya secara GRATIS serta pendaftaran member secara FREE kepada pengunjung situsnya. Situs ini bernama metodebaru.com.

Gratis?! Masa Sih??

Anda Tidak Percaya??

Tadinya saya juga begitu tapi setelah membaca dan menelaah, ternyata bisnis ini merupakan bisnis yang benar – benar JUJUR dan benar – benar menerapkan prinsip win-win solution. Bahkan Anda bisa mendapat bonus jika join sekarang.

klik disini untuk join.

Untuk yang pemula dalam bidang bisnis online seperti saya ini, sangat ingin mendapatkan bisnis yang sangat menguntungkan bagi kita bukan?? Tapi kita harus berhati-hati dalam memilih bisnis yang baik dan tidak membodohi orang – orang untuk ikut membodohi orang lain. Kalau Saudara Dwi Kurniawan ( pemilik bisnis MetodeBaru.com ) bilang itu merupakan “Bisnis Sampah”. Tapi tidak semua bisnis online itu adalah “Bisnis Sampah”. Untuk lebih jelasnya dapat mendownload e-book nya secara GRATIS . klik disini untuk download e-booknya.

Menurut saya, bisnis ini merupakan bisnis yang cocok bagi pemula seperti saya dan Anda yang masih awam. Walau tidak menutup kesempatan bagi Anda yang memang sudah expert di bidang bisnis online ini. Hanya dengan menyebarkan produk yang Gratis ini Anda bisa mendapatkan komisi. Dengan pembagian 75% untuk Anda dan 25% untuk Admin. Benar – benar luar biasa, ini merupakan penawaran yang sangat sangat menarik untuk newbie seperti saya. Dan yang perlu diingat bisnis ini bukan merupakan MLM, investasi, money game dsb.

Bisnis ini sangat berbeda dari bisnis – bisnis online yang pernah saya ikuti. Dengan prinsip “Give First, Recieve Second” yang diterapkan oleh saudara Dwi Kurniawan. Saya mulai percaya dengan bisnis ini. Berbeda dengan bisnis – bisnis yang lain yang mengharuskan kita untuk membayar dulu agar bisa mendapatkan produk/materinya. Bukannya lebih enak kita mengenal produknya dahulu kemudian jika tertarik kita bisa membelinya. Satu kalimat inspirasional yang diberikan saudara Dwi Kurniawan, yaitu :

Hampir setiap orang yang menerima
sesuatu yang pada awalnya gratis sesungguhnya
selalu berakhir dengan membeli apa yang dijual

Anda tentunya tidak ingin Membeli kucing dalam karung kan?! Begitu juga saya awalnya ada keraguan tapi sekarang saya sudah join dengan metodebaru.com ini.

Ayo buruan join, Anda akan mendapat bonus tambahan jika mengorder sekarang.

Download Gratis disini

Sampai jumpa di puncak sukses.

GRATIS MetodeBaru dengan Sistem Baru

Posted in Uncategorized on Januari 8, 2010 by Triton

Jika Anda sering melihat situs afiliasi, programnya biasanya menggunakan afiliasi 50% artinya jika produk seharga Rp 250.000, maka komisi afiliasi dibagi dua yaitu Rp 125.000 masing-masing reseller dan pemilik/pengelola program. Dan tentunya Anda bayar dulu untuk dapat masuk ke dalam Member Area-nya.

Banyak orang “beli kucing dalam karung”, artinya dengan sales letter yang bombastis, namun setelah membeli produknya, customer kemudian kecewa karena tidak lain ebook yang ditawarkan hanya sekedar saja, hanya memberikan informasi yang basi, bisa dikatakan SAMPAH.

Berbeda dengan MetodeBaru, Anda dapat secara GRATIS men-download produknya terlebih dahulu, tanpa dipungut sepeser pun. Wow konsep apa ini? Ya memang, layaklah disebut Metode Baru : Cara Paling Mudah Menghasilkan Uang Lewat Internet.

Biar saya bocorkan sedikit bahwa sistem yang digunakan adalah GFRS (Give First Receive Second). Penasaran kan? Oh iya, hebatnya lagi, program ini memang GRATIS tapi malah bisa menghasilkan uang.

klik banner di bawah ini…

<a href=http://metodebaru.com/mb7697 target=_blank><img src=http://metodebaru.com/img-banner/banner-2.png border=0></img></a>

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.